Mau sholat dan ibadah kok nunggu kaya?. Kaya ya kaya, tidak ada hubungannya antara kaya dengan tekunnya sholat serta berbagai ibadah yang lain. Sholat itu wajib dalam setiap kondisi meskipun kita sedang sakit ataupun dalam perjalanan. Dalam sakit kita wajib sholat apatah lagi kita dalam keadaan miskin dan melarat, toh kita masih dalam keadaan sehat. Orang mau sholat kalau sudah kaya itu adalah orang yang tidak ikhlas dalam beramal. Seolah-olah dengan kemarahan terhadap kondisinya dan malas sholat maka Tuhan akan terketuk hatinya agar melimpahkan kekayaan kepadanya. Aduhai kawan, mau menangis darahpun kalau Tuhan tiada berkehendak untuk mengkayakan kita dengan harta, tidak akan bisa kita kaya harta kecuali dengan doa, keikhlasan, usaha, dan kehendak Tuhan.
Mau sholat menunggu kaya, jangan mimpi dulu kawan, apakah usia kamu mampu melampai takdir Tuhan. Ajal itu tiada menentu datangnya, kadang ketika kita sehat atau sakit. Kadang ketika kita miskin ataupun kaya. Berapa banyak orang mati dalam keadaan sehat dan usia yang masih muda. Maka kalau ajal itu tiada memandang bulu untuk apalagi kita beramal menunggu masa tua dan keadaan kaya raya.
Kawan, sholat itu jangan menunggu kaya ya!, kalau sholat menunggu kaya pasti sudah banyak ayat-ayat yang mengatakan "wahai orang beriman sholatlah kamu apabila dalam keadaan kaya, apabila kamu dalam keadaan miskin maka sholat.boleh ditunda". Buktinya kan tidak demikian. Tidak ada satupun ayat yang mengarah ke sana. Kondisi ibadah yang bersyaratkan kaya adalah zakat. Adapun sholat dan puasa tidak menuntut kekayaan.
Banyak orang rajin sholat dan berbagai ibadah lainnya dalam keadaan kaya. Mengapa kita takjub, bukankah itu biasa dan wajar. Lihatlah apakah mereka mampu bertahan dalam keimanan apabila jatuh miskin?. Barang kali jika mereka jatuh miskin, sumpah serapah keluar dari mulutnya, semua orang disalahkan selain dirinya sendiri bahkan Tuhanpun tidak luput dari sasaran kemarahannya. Disinilah letak ujian yang sebenarnya, orang kaya rajin ibadah mereka mulia, tetapi orang miskin yang rajin ibadah merekalah yang lebih mulia dalam
Pandangan Tuhan, sebab ujian kemelelaratan tidak membuatnya malas untuk menegakan sholat.
Kawan semoga paparan ini bermanfaat, dan mari kita sama-sama memperbaiki diri dan mari kita sama-sama belajar memahami arti kehidupan
Tampilkan postingan dengan label kaya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kaya. Tampilkan semua postingan
Jumat, 05 Agustus 2016
Kamis, 04 Agustus 2016
Kaya atau Miskin Itu Soal Biasa
Sejahat-jahatnya manusia adalah orang kaya harta namun berlaku aniaya. Serugi-ruginya manusia adalah orang miskin yang tiada bersabar.
Orang kaya harta namun aniaya adalah orang yang jahat terhadap diri sendiri, sudahlah berlimpah harta namun tidak digunakan untuk amal sholih. Harta bertumpuk tiada berkah. Ibaratkan pohon yang rindang dan rimbun banyak pohonnya namun tiada berbuah.
Berbondong-bondong orang meminta tolong, tiada satupun yang diberi tolong. Andaipun akan diberi tolong dipikir dahulu mana yang menghasilkan untung mana yang tidak.
Sanak saudara datang bertamu dicurigai hendak meminta-minta. Rumah berkunci besar, bertembok tinggi menjulang bertahtakan pecahan beling, semata-mata hendak melindungi kerajaan hartanya.
Zakat tiap tahun terlewatkan, disangkanya hendak mengurangi tumpukan simpanan uangnya.
Ada orang kaya zalim, ada juga orang miskin yang zalim. Kok bisa, jelas bisa sudah miskin harta miskin pula hatinya dari tindakan syukur. Apa bukti kalau orang miskin itu dikatakan pandai bersyukur. Buktinya adalah mereka mampu beramal sholih dalam kemiskinannya. Orang miskin amat merugi apabila tidak beramal sholih dan dapat pula dikatakan sebagai orang bangkrut karena miskin di dunia, miskin pula diakhirat. Masih untung orang kaya zalim karena masih dapat merasakan nikmat dunia daripada orang miskin jahil, nikmat dunia tiada dapat, nikmat akhirat juga menjauh.
Kaya atau miskin itu adalah biasa, keberadaannya adalah sebagai ujian saja. Kaya miskin itu silih berganti dan sahut menyahut pada tiap orang. Kadang si A kaya besok berputar bagaikan roda pedati menjadi orang miskin. Si B hari ini miskin dan melarat, besok hari roda peruntungan memihaknya dan menjadikannya orang kaya. Untuk apa heran, memang perputaran dunia adanya kan seperti itu. Kadang-kadang juga si A tadinya kaya lalu hidupnya bertambah kaya. Atau si B miskin kemudian bertahun-tahun berlalu hidupnya masih seperti kemarin. Untuk yang seperti ini untuk apa kita heran juga, hal demikian itu juga biasa dalam hidup dunia. Hidup kaya atau miskin itu biasa, yang luar biasa itu adalah hati kita tidak terpengaruh terhadap keadaan realitas kita. Apapun keadaan kita jangan sampai membuat kita kufur terhadap Allah Sang Pencipta. Jangan kita ingkar nikmat dan jangan kita menjadi orang yang tidak sabaran. Kenikmatan di ingkari, meraih harta tidak sabaran menempuh berbagai cara.
Langganan:
Postingan (Atom)


